TEMA BULANAN:
" GEREJA MEMPERKOKOH NILAI-NILAI KEBANGSAAN "

TEMA MINGGUAN:
" BERPUASA dan BERDOA BAGI BANGSA "

BACAAN ALKITAB:
NEHEMIA 1:1-11

PEMBAHASAN TEKS ALKITAB (Exegese)

Kitab Nehemia ditulis sekitar tahun 430-420 SM, dengan tujuan penulisan kitab ini adalah untuk melengkapi catatan sejarah pasca pembuangan yang diawali dalam kitab Ezra, serta untuk menunjukkan apa yang dilakukan Allah untuk Orang-orang yang terluput melalui kepemimpinan yang saleh dari Nehemia dan Ezra selama tahap ke tiga dari pemulihan pasca pembuangan (sejarah tentang tiga tahap yang kembali ke Yerusalem. Tahap I tahun 538 SM dan tahap II 457 SM pada zaman Ezra serta Tahap III tahun 444 SM pada zaman Nehemia). Bagian awal dari kitab Nehemia berbicara tentang dirinya yang pulang ke Yerusalem untuk melaksanakan tugas membangun kembali tembok dan pintu gerbang Yerusalem sebagai mandat dari raja Persia Artahsasta (Artaxerxes). Persia adalah kerajaan yang luas, yang pernah mencakup sebagian Yunani dan menjangkau sampai ke India di sebelah timur.
Nehemia adalah seorang Yahudi yang bertugas sebagai pelayan pribadi Artahsasta, ia memegang jabatan juru minuman raja. Tugas ini bukanlah tugas mudah atau rendahan, tetapi merupakan tugas terpandang di dalam kerajaan sekaligus sulit, karena hal ini berkaitan erat dengan rasa percaya raja terhadapnya yang harus dijaga. Membawakan minuman untuk raja adalah tanggung jawab yang besar karena Nehemia adalah orang yang pertama kali harus mencicipi minuman tersebut untuk memastikan minuman raja tidak mengandung racun. Hal yang dilakukannya dengan jujur dan sungguh-sungguh itu justru menghasilkan rasa percaya raja yang besar terhadap dirinya, sehingga di kemu-dian hari Nehemia diangkat sebagai bupati dan ditugaskan untuk membangun kembali Yerusalem yang telah runtuh.
Pada bulan Kislew tahun kedua puluh, Kislew adalah bulan ke-9 dalam penanggalan Yahudi yang berlangsung dari sekitar pertengahan November sampai pertengahan Desember. Raja Artahsasta I memerintah di Persia pada waktu itu dari tahun 465-424 SM, maka tahun kedua puluh itu artinya tahun 446. Saat Nehemia ada di Susan (ibukota Provinsi Elam dan merupakan istana musim dingin bagi raja-raja Persia) dia berjumpa dengan Hanani, salah seorang Yahudi, dan bertanya tentang keadaan Yerusalem dan orang-orang yang terluput, ini mencakup baik orang-orang yang telah kembali dari pembuangan maupun orang-orang yang tidak diangkut ke pembuangan dan tetap tinggal di Yehuda selama masa itu. Hanani menyampaikan berita yang menyedihkan sesuai realita yang ada mengenai Yerusalem dan orang-orang yang diam di dalamnya. Adalah hal yang biasa dizaman itu jika setiap kota memiliki tembok dan gerbang yang besar, semakin tinggi dan kokoh tembok sebuah kota, maka semakin aman dan kuat pertahanannya, dan ketika tembok Yerusalem runtuh, kota itu pun menjadi lemah terhadap serangan musuh dan tidak aman lagi. Mendengar keadaan saudara-saudaranya, Nehemia duduk menangis dan berkabung selama beberapa hari sebagai bentuk kesedihan yang mendalam, hal seperti itu biasa dilakukan oleh orang-orang dizaman itu untuk mengungkapkan kesedihan hati mereka. Ia juga berdoa dan berpuasa kehadirat Allah semesta langit. Berdoa dan berpuasa juga adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada waktu itu sebagai bentuk iman mereka kepada Tuhan, juga sebagai bukti bahwa mereka membutuhkan Tuhan sebagai pemilik otoritas tertinggi dalam kehidupan. Nehemia berdoa dan bepuasa untuk bangsanya.
Jabatan, kedudukan, dan kenikmatan hidup yang dirasakan serta dinikmati oleh Nehemia tidak membuatnya lupa daratan. Ia peduli dan tetap hidup taat kepada Tuhan juga peduli kepada bangsa dan sesamanya. Langkah awal yang ia lakukan setelah mendengar kabar menyedihkan tersebut adalah berdoa dan berpuasa kepada Tuhan semesta langit. Jadi dia tahu siapa yang seharusnya ia andalkan, bukan dewa-dewi bangsa Persia atau tuhan lain, tetapi kepada Allahnya, Allah semesta langit. Dan ketika meng-gumuli persoalan ini Nehemia menunjukkan sikap konsis-tennya, ia berpuasa dan berdoa siang dan malam bagi orang-orang Israel. Berpuasa adalah kegiatan berpantang terhadap makanan atau terhadap suatu makanan dan biasanya dilakukan bersamaan dengan doa sebagai bentuk kerendahan hati manusia di hadapan Allah. Orang yang berpuasa dan berdoa adalah orang yang serius untuk fokus menggumuli suatu persoalan hidup ataupun suatu kerinduan hati. Nehemia menunjukkan kepedulian yang serius dengan berpuasa dan berdoa di hadapan Tuhan. Tak hanya konsisten, ia juga sadar untuk mengintrospeksi diri dan merendahkan diri di hadapan Tuhan Allah. Ia tidak ragu-ragu untuk mengakui salah dan dosanya, kaum keluarganya maupun bangsa itu secara menyeluruh diakuinya telah berdosa di hadapan Tuhan. Ayat-ayat terakhir dalam bacaan ini memperlihatkan kepada kita tentang Nehemia yang sekalipun jauh dari tempat asalnya tapi tetap berpegang pada perintah dan Firman Tuhan, jauh dari rumah tidak membuatnya melupakan atau meninggalkan Firman Tuhan. Isi doanya justru memperlihatkan bahwa ia paham dan mengimani Firman yang Tuhan sampaikan lewat hamba-Nya Musa. Apa yang dijanjikan Allah kepada Musa dipegang sungguh-sungguh dan itu nyata lewat doa Nehemia karena ia tahu janji Allah tidak pernah berubah dahulu, kini sampai selama-lamanya.

NAS PEMBIMBING: DANIEL 9:3

POKOK DOA:
  • Warga Gereja tergerak untuk berpuasa dan berdoa.
  • Warga Gereja menerapkan teladan kasih Kristus lewat tindakan toleransi dengan agama lain tapi tidak kehilangan integritas sebagai pengikut Kristus.
  • Pemimpin bangsa yang memiliki kepedulian terhadap kebaikan bangsa.

ATTRIBUT:
Warna dasar putih dengan lambang bunga bakung dan salib berwarna kuning.



LINK OUR FANPAGE ON FACEBOOK
full-width